Pers Masih Rentan Kekerasan

Pikiran Rakyat, BANDUNG. Puluhan wartawan media cetak dan elektronik yang tergabung dalam Solidaritas Wartawan Bandung (SWB), menggelar aksi keprihatinan terhadap nasib wartawan Indonesia, di halaman Gedung Sate, Jln. Diponegoro Kota Bandung, Rabu (3/5). Aksi tersebut digelar memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia.

Dalam aksinya, para wartawan mengusung sejumlah poster, di antaranya bertuliskan, “Bebas Bablas”, “Wartawan Indonesia, mikir atuh”, dan “Kami bangga jadi wartawan Indonesia.” Mereka pun berorasi menuntut peningkatan kesejahteraan dan menolak kekerasan terhadap insan pers.

Koordinator Aksi Solidaritas Wartawan Bandung Gin Gin Tigin Ginulur mengatakan, wartawan
Indonesia dalam posisi terjepit.
Di satu sisi, wartawan mendapat tekanan dari pemilik maupun pimpinan media. Di sisi lain, masyarakat juga menuntut wartawan bekerja secara profesional. Namun, banyak pihak belum memahami tugas dan fungsi wartawan. Akibat, tidak sedikit kasus kekerasan maupun aksi premanisme dialami wartawan.

Ancaman terhadap kebebasan pers, kata Gin Gin, tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang, tetapi juga di negara-negara yang maju, seperti di Amerika Serikat. Militer AS sempat menahan seorang wartawan The New York Times karena mengamankan identitas sumber informasi, sesuai dengan etika pers. Hal serupa pun terjadi di Indonesia. Berdasarkan data Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sejak 3 Mei 2005 hingga sekarang, tercatat 53 kasus kekerasan terhadap jurnalis dan kantor media. Kasus terakhir yaitu penganiayaan terhadap seorang wartawan di Jember hingga meninggal dunia, 29 April lalu.

Karena itu, pada Hari Kebebasan Pers Internasional, SWB mengajak semua pihak agar membangun kesadaran akan pentingnya hak memperoleh informasi serta kebebasan berekspresi, termasuk menyampaikan pendapat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Selain itu, semua pihak diminta menempuh prosedur hukum yang benar jika merasa dirugikan oleh pemberitaan pers. Prosedur itu dilalui dengan meminta hak jawab dan mengadukan keberatan ke Dewan Pers.

Sementara, Adi Marseila, peserta aksi mengatakan peringatan Hari Pers Internasional dimanfaatkan sebagai ajang introspeksi diri para wartawan, sejauhmana wartawan telah melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan benar. (A-136)*** 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s