Aksi Geng Motor Meresahkan

Ada Kesan Pembiaran terhadap Pelanggaran yang Dilakukan

 

Kompas, Bandung – Keberadaan gerombolan atau geng sepeda motor akhir-akhir ini semakin meresahkan masyarakat. Aksi kekerasan dan kriminal yang diduga dilakukan para anggota geng motor semakin sering terjadi di berbagai wilayah Kota Bandung. Diperlukan ketegasan aparat keamanan untuk menghentikan aksi geng motor tersebut.

“Sejak awal saya takut dengan geng motor. Mereka serem-serem,” kata Desi (21), warga Kelurahan Tamansari, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Rabu (23/8).

  

Desi menceritakan, ia kerap menyaksikan anggota geng motor bertingkah seenaknya di jalan raya, misalnya saat lampu merah mereka menerobos jalan, seolah tidak peduli dengan kendaran lain, dan membunyikan klakson dengan keras sehingga memekakkan telinga.

  

“Siapa yang enggak takut kalau mereka yang menggunakan motor gede itu dekat kita yang hanya pakai motor bebek,” ujarnya. Ketakutan Desi bertambah setelah mengetahui bahwa gerombolan motor atau geng motor ini juga kerap bertindak kriminal. “Sekarang ini ke mana-mana saya takut pakai motor, apalagi malam hari. Takut jadi korban,” katanya.

  

Hal serupa diungkapkan Wulan (23), mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Wulan takut pulang dari kampus pada malam hari. “Sebisa mungkin sore atau petang saya sudah di tempat kos. Khawatir ada apa-apa. Apalagi saya kan cewek,” kata Wulan yang tinggal di Dago Atas ini.

  

Semangat kelompok

  

Sementara Giri (42), tukang parkir di Jalan Ir H Djuanda, mengatakan, keberadaan gerombolan motor besar sebenarnya mudah dilacak. Mereka memiliki keanggotaan dan kantor yang jelas. “Tapi kalau geng motor susah, soalnya banyak juga yang bukan warga Bandung,” kata Giri, yang merasa risi dengan perilaku oknum geng motor.

  

Giri meminta polisi bertindak tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan anggota geng motor.

  

Sosiolog dari Universitas Padjadjaran Budi Rajab mengatakan, kecenderungan arogansi dan anarkisme geng motor sudah mencuat sejak lima tahun lalu. Kondisi ini dipicu semangat kelompok yang merasa lebih unggul. “Saat berjalan bersama-sama, mereka merasa lebih jago sehingga cenderung arogan,” katanya.

  

Budi melihat ada pembiaran terhadap ulah anggota geng motor. Tidak ada sanksi yang diberikan oleh aparat keamanan terhadap sikap arogan geng motor di jalan raya. Akibatnya, tindakan itu dianggap wajar dan menjadi kebiasaan. “Perlu ditinjau ulang apakah keberadaan geng-gengan ini bermanfaat bagi masyarakat umum. Kalau tidak, sebaiknya dilarang daripada meresahkan,” Budi mengusulkan.

  

Dalam sebulan terakhir setidaknya dua peristiwa kriminal melibatkan geng motor. Pertama ialah kasus penusukan dengan motif perampokan di Jalan Setiabudi yang menewaskan seorang wartawan, Agus Rakasiwi (24). Kasus ini kini ditangani Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung.

  

Peristiwa lain terjadi di Jalan Diponegoro. Dua pemuda, Rangga Megantara Tarigan (21) yang berboncengan dengan Mochamad Komarudin (21) dari arah Jalan WR Supratman menuju Jalan Ir H Djuanda, menabrak pagar pembatas jalan di Jalan Diponegoro karena dipepet sekawanan orang bersepeda motor.

Begitu motor jatuh, Rangga dan Komarudin mencoba melawan, tetapi lawannya berjumlah 12 orang. Akhirnya Rangga dan Komarudin lari, sementara sepeda motornya menjadi bulan-bulanan kawanan geng itu. (MHF)

3 thoughts on “Aksi Geng Motor Meresahkan

  1. jangan sampai kta terjerumus dengan hal-hal yang bisa menghancurkan keluarga,bangsa,dan negara kita.

  2. kejadian lagi…3 korban 1 tewas di jl ciliwung bdg…dpn no 12
    malam minggu..1 nov 2008….diduga kibat ulah geng motor…
    wah……………. ga aman yaaa di bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s