Panji 666

Oleh Ahmad Yunus

Virus Satanik tak pernah mati. Mereka bersemayam sedekat urat nadi kita.

ALUNAN musik Gregorian mengisi ruang berukuran 8 x 15 meter itu. Salib berada di tengah ruangan, ditutupi lembaran kain hitam yang menjuntai hingga ke lantai. Lilin-lilin putih mengitarinya. Di atas salib, sesosok makhluk berdiri, menyerupai tubuh perempuan yang muram. Bermata hitam dan meneteskan air mata gelap. Ia  sedang mengandung janin.   Di ruang itu pula, lukisan-lukisan abad pertengahan menempel pada dinding-dinding. Seperti lukisan Lilith, sosok malaikat penggoda bersosok ular yang tengah merayu Adam. The Unholly Grail ketika Yesus dalam kepungan para iblis. Hingga tempelan tengkorak berkepala kambing yang bertanduk. Melingkar erat rantai besi kusam. Dengan sederet janin-janin bayi yang kesepian.  Semua itu membuat ruangan Pusat Kebudayaan Perancis, Jalan Purnawarman, Bandung, jadi agak lain dari biasanya. Ruangan terasa pengap dan sesak. Poster, kartu pos dan sedikit catatan mengenai lukisan, menyebar di antara pengunjung. 

Kedatangan mereka bukan untuk mengikuti ritual pemujaan terhadap setan. Atau mengikuti upacara kaum Opusdei dalam cerita Da Vinci Code karya Dan Brown. Kedatangan pengunjung ini untuk menikmati karya  lukisan dan instalasi Karya Ismet Zainal Effendi  dalam In The Name Of  Goth + Grotesque, beberapa waktu berselang.  Ismet mengangkat seni abad pertengahan. Masa Ostrogoth. Goth merujuk pada sebuah suku kuno yang tertindas di Jerman. Dan Grotesque adalah istilah nama untuk menunjukkan sebuah ciptaan makhluk baru yang terkesan ganjil. Campuran antara kerangka binatang, potongan tubuh manusia hingga logam-logam tua bekas.  “Mengapa sosok iblis itu menjadi istri dari Adam? Teror menjadi hal yang estetis walau belum tentu indah, “ kata Ismet kepada saya.  Ismet seniman jebolan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung generasi 1990’an. Dia membawa nuansa seni Post Human era masa pertengahan. Ia menikmati setiap bentuk horor dan terror mistis.  

Ia belajar pada karya-karya Leonardo Davinci, Michaelangelo, Joachim Luetke dan H.R. Giger. “Semua simbol, teks, satanik bible, lirik gothic, puisi, Alqur’an saya pelajari untuk keperluan perupaan. Juga fragmen Katolik yang dekat dengan Gothic dan Judaisme.,” katanya lagi.  “Saya tidak menyinggung soal permusuhan agama. Hanya mempertanyakan gaya hidup orang-orang religius yang membenci Tuhan. Soal galaksi, surga, neraka, tentang penciptaan Tuhan dan kegelapan,” ujarnya, sengak.  

***

TUMPUKAN buku berjejer rapi memenuhi seisi ruangan. Ada sederet kumpulan buku soal teologi. Estetika. Film. Seni. Juga alkitab dari berbagai agama. Sisanya tumpukan kliping majalah dari Time, Newsweek hingga koran macam The Jakarta Post.  Sedikit cahaya masuk dari jendela berukuran 50 x 150 centimeter persegi menerangi meja kerjanya. Patung kecil Bunda Maria. Dan sedikit abu bekas rokok putih dalam sebuah asbak kecil. Tak jauh dari pintu masuk menggantung sebuah lukisan berwajah Yesus. Ia tampak kesakitan dan menderita. Di atas kepalanya terikat sebuah kawat berduri.  

Ini adalah ruang kerja dari Fabie Sebastian Heatubun, pastur cum dekan Filsafat Universitas Parahyangan Bandung. Di belakang namanya juga terdapat sebutan lain. Ia demonolog. Dalam bahasa Melayu, kurang lebih berarti “pawang setan”. Ia memelajari sifat, perilaku, eksistensi, ikon, bahasa tentang setan dalam kacamata Katolik.  Tak banyak yang mendapat mandat menjadi seorang demonologi. Dalam catatan, hanya dua nama saja di negeri ini yang bertugas menjadi seorang demonologi. Selain Heatubun, ada nama Reichenbach, SSCC, warga Belanda tapi kini sudah almarhum.   “Demonologi bagian dari ilmu pengetahuan. Berangkatnya dari teologi dan kristologi atau ilmu tentang kristus. Dan berbeda dengan dukun, lho,” kata Heatubun tersenyum. Perutnya buncit. Ia memakai kemeja kotak berlengan pendek. Bercelana jeans. Sesekali jari tangan kanannya merapal biji-biji kecil dalam seutas rosario, tasbih.  Heatubun hadir di antara puluhan pemuda berkaos hitam pada saat pameran Goth And Grotesque itu.. Ia juga memberikan pengantar pada pameran tersebut. Baginya, apa yang dilakukan oleh Ismet adalah sebuah fenomena. Tak banyak seniman kekinian yang mengutak-atik soal masa abad kegelapan.  

Heatubun mencatat dan memperhatikan dengan detail apa yang telah dilakukan oleh diri pemuda bersosok Indian itu. Apakah Ismet seorang ikonoklast? Seorang yang tengah merusak dan menghancurkan ikon-ikon Kudus sebagai medium devosi religius Katolik?  “Ia tidak menghancurkan bendanya namun peristiwanya. Ia melakukan dekonstruksi ikonik. Angelik (Malaikat) dijadikan Diabolik (Setan atau Iblis). Ia tengah mengatakan bahwa keilahian selalu berdampingan dengan keiblisan,” tulis Fabie dalam catatan kecil pampflet yang dibagikan pada saat pameran itu.   Fabie Sebastian Heatubun, akrab dipanggil dengan romo,  berdiri kemudian beranjak dari kursi kerjanya pada sebuah tumpukan kliping majalah. Ia mengambil beberapa majalah. Di antaranya majalah Time dan Newsweek. Ia membuka kedua majalah bergengsi itu dan menunjukkan sebuah artikel soal fenomena demonologi. Artikel itu mengupas tentang pembunuhan massal di California, perdebatan soal makhluk luar angkasa hingga ritual-ritual pemujaan setan.  “Saddam Husein saat ditangkap punya lukisan-lukisan satanik. Politik Bush paska 11 September menunjukkan penghancuran terhadap satanik. Menjelang pergantian millennium baru ada upaya antichrist yang di-blow up melalui internet. Setan menyerang kembali Gereja Katolik dan pastur-pastur dibuat agar sesat termasuk dengan ummatnya. Secara de facto kelihatan. Setan itu dilepas lagi,” katanya. Wajahnya tampak mengerut. Serius.  

“Saya suka dengan single Headless Cross milik Blacksabbath, Led Zepelin hingga Deep Purple. Bukan musik biasa. Di asrama saya tentu saja dimarahi karena tidak boleh mendengar lagu-lagu seperti itu. Dalam Nietsche ada kenimatan metafisik lewat musik,” katanya.  Heatubun dibesarkan dalam lingkungan Katolik. Dan besar di kepulauan Key, Maluku Tenggara. Di kampung halamannya ini ia mengenal kekuatan supranatural secara tradisional. Lambat laun ia tertarik dan mulai larut dalam persoalan pemikiran, filsafat dan teologi.  

PADA tahun 1992 hingga 1995 Fabie Sebastian Heatubun belajar Filsafat dan Teologi di Sant An Selmo, Roma Italia. Pendiri sekolah keuskupan ini adalah Benedictus. Nama yang pernah dipakai dalam sebuah novel In The Name Of The Rose karya Umberto Eco. Biara Benedictus. Sangat gothic dan konservatif, ingatnya.  Heatubun belajar secara mendalam mengenai ilmu ritual keagamaan. Melihat secara detail bangunan-bangunan biara-biara di Italia yang mengusung arsitektur ala gothic. Berdiri patung-patung dan lukisan yang menyeramkan. Pada dinding, jendela hingga langit atap-atapnya yang bercerita tentang Yesus hingga Bunda Maria.  Dan mengumpulkan cerita-cerita soal sejarah hingga politik  Kristen Katolik. “Menjadi seorang uskup menjadi kebutuhan untuk mempelajari dunia iblis. Harus seimbang antara dunia yang putih dan gelap,” katanya.  

“Paus Benedictus XVI , di Vatikan, sudah memerintahkan kepada seluruh pasturnya untuk berperang melawan satanic,” kata Fabie.  Pada tahun 1997, Vatikan menerbitkan buku-buku pegangan tentang perintah melawan satanik. Lengkap dengan buku macam ritus untuk pengusiran setan. Buku-buku itu sendiri merujuk dan terinspirasi dari Alkitab. Buku dari Vatikan itu mengatakan bahwa dekade 1990 akhir hingga menjelang millennium baru merupakan titik bangkitnya kembali kekuatan setan.  Perintah Excorcism dari Paus itu sendiri menuai badai di kalangan para pastur dan gereja Katolik.  Teolog-teolog Jerman, Belanda hingga Italia protes pada Paus karena menganggap perintah itu irasional.  Dan hanya mengingatkan pada masa kegelapan silam.  Heatubun sendiri memulai perjalanannya untuk melihat kemunculan satanik di Indonesia. Ia memberikan ceramah mengenai iblis dari gereja hingga ke biara. Dari Medan, pedalaman Kalimantan, Lombok, Flores, Bandung, dan Jakarta.  

Sejak tahun 1997 itu Heatubun mulai mengamati setiap kejadian yang menimpa kalangan orang Katolik. Beberapa kejadian ganjil muncul dan kemudian ditelisik lebih dalam lagi. Kasus pertama terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur. Seorang Katolik makan kue Hosti—kue terbuat dari bahan gandum tanpa ragi— pada saat Misa dan kemudian berubah menjadi segumpal daging! Daging ini dipercaya sebagai bagian dari daging Yesus Kristus.  Kejadian lain adalah munculnya gambar Yesus Kristus dan Bunda Maria pada dinding-dinding gereja secara alami. Kejadian ini terjadi di Jakarta dan Menado. Jangan harap kasus seperti ini masuk dalam pemberitaan media. Kasus ganjil ini kemudian menjadi salahsatu catatan penting yang dilaporkan oleh Katolik Indonesia ke Vatikan.  Heatubun melangkah pada jejeran buku-bukunya. Dan mengambil buku satanik macam Satan The Early Christian Tradition karya Jeffrey Burton Russell dari Cornell University Press.   “Musik adalah jalan tercepat dan efektif bagi setan untuk memengaruhi manusia. Ketimbang melalui jalur seni rupa ataupun arsitek gothicnya,” kata Fabie.   

***

DESEMBER 2006. Embun air masih menyisakan tetesnya di sela-sela dahan dan dedaunan. Sinar matahari belum terasa hangat.  Jam menunjukkan pukul 10.10 pagi hari. Suasana jalan Sultan Agung masih terlihat sepi. Di sebuah distro—akronim dari distribution outlet— terasa hangat.  Beberapa pengunjung sudah tampak untuk membeli macam kaos, kaset hingga buku-buku. Penjaga toko tampak sibuk hilir mudik. Toko kecil Omunium menjual ornament gothicstyle di bawah bendera God Incorpoorated.  Di sini juga markas salahsatu pioneer band cadas indie Bandung, Koil.  “Punya buku sejarah blackmetal atau tentang satanik?” kata saya pada seorang perempuan penjaga toko.  

“Mengapa cari satanik?”Balasnya sambil tersenyum. Mengernyitkan dahi kanan. Ia mengambil sebuah buku hasil fotokopian.  Ia berjalan dan menuju etalase buku. Dua buah buku berseri ia ambil. Buku kecil, berwarna hitam, tebalnya sekitar 300 halamanan. Buku pertama The Satanic Bible dan kedua The Satanic Rituals karya Anton Szandor LaVey. Pada muka depan buku itu terdapat ilustrasi berupa lingkaran ikon bintang berkepala kambing berwarna merah.   Siapa Anton Szandor laVey? Para pengikutnya memanggil sebagai “The Black Pope”. Ia  pendiri Gereja Satanik pada 30 April 1966 di San Francisco, Amerika Serikat. Gereja Satanik ini merituskan upacara bapstis, pernikahan dan upacara kematian pada pangkuan iblis.   LaVey’s memulai pelajarannya setiap Jum’at malam dan ia menyebutnya dengan “Lingkaran Sulap”. Setiap peserta yang mengikuti pelajarannya disarankan untuk menyiapkan pada keyakinan baru. Ia juga memproklamasikan bahwa tahun 1966 sebagai tahun awal kebangkitan setan atau Anno Satanas. Tahun api. Anton S LaVey adalah keturunan dari sebuah campuran keluarga bangsa Georgia, Rumania. Dengan kehidupan keluarga besar seorang gypsi yang memiliki cerita-cerita soal legenda vampire dan sihir dari Transylvania. Lavey’s pada usia kecilnya menyukai bacaan-bacaan model majalah Weird-Tales, buku Frankenstein karya Mary Shelles’s dan karya klasik Bram Stoker’s lewat Dracula.

Pada usia remaja, LaVey’s larut dalam dunia sirkus sebagai penjinak singa, harimau dan pemain musik di Ballet Symphony Orchestra.  Dan kemudian karirnya semakin menanjak ketika ia menjadi seorang asisten pemain sulap, belajar soal ilmu hipnotis, dan mempelajari soal ilmu mistik. LaVey’s tengah bermain dalam dunia sulap dan sihir. Kombinasi pengetahuan itu telah mengantarkan LaVey pada dunia yang lain. Dunia kehidupan satanik dan seni kegelapan.  Pada April 1966, LaVey’s mengumumkan soal berdirinya sebuah Gereja Setan pada acara Festival Sihir dan Sulap Walpurgisnacht. Ia mencukur plontos seluruh rambutnya. Dengan memakai pakaian jubah panjang berwarna hitam. Dan memberi goresan warna hitam pada bagian matanya. Penampilan itu memberikan sentuhan sebagai ketua gereja setan di muka bumi.  Los Angeles Times dan San Francisco Chronicle melakukan liputan mendalam mengenai fenomena LaVey’s. Pada tanggal 1 Februari 1967 kedua wartawan media tersebut melakukan liputan pertunjukkan proses upacara pembaptisan setan terhadap putri pertama LaVeey’s, Zeena. Dan melihat langsung bagaimana upacara kematian ala setan berlangsung. Pada tahun itu juga LaVey’s merilis album pertamanya dengan judul The Satanik Mass. LaVey’s juga pada akhirnya menjadi seorang produser dan pemain film di Hollywood. Ia membawa sentuhan dan warna-warni satanik dalam film-filmnya. Seperti dalam Invocation of my Demon Brother, The Devil’s Rain, The Car, Doctor Dracula. Ala Scengali, Charles Manson Superstar, Death Scenes dan Speak of The Devil.

Ia belajar pada Friedrich Nietzsche hingga pada seorang Jack London yang memberikan naskah essaynya mengenai ideology dan upacara praktis gereja setan. Termasuk mempelajari mengenai naskah John Dee’s seorang ahli perbintangan yang menuliskan ramuan-ramuan kunci Enochian. Ramuan kunci-kunci Enochian ini merupakan bahasa yang digunakan dalam proses upacara satanik. Enochian adalah sebuah bahasa pada tahun 1659 percampuran antara Arab, Yahudi dan Latin. Dan digunakan pada awalnya untuk keperluan membaca bola kristal. Ada sekitar 19 kunci bahasa Enochian. Kunci pertama bertujuan untuk memproklamasikan diri untuk mengabdi kepada dunia setan.

Kunci Pertama (Enochian):“ Ol sonuf vaoresaji, gohu IAD Balata, elanusaha caelazod; sibrazod-ol Roray I ta nazodapesad, Giraa ta maelpereji, das hoel-qo qaa notahoa zodimezod, od comemahe ta nobeloha zodien……………hoathahe Saitan!”

Pada tahun 1969, Anton Szandor LaVey kemudian menulis buku mahakaryanya.  The Satanic Bible dan diterbitkan oleh Avon Books, An imprint of HarperCollins Publishers, Newyork. Buku keduanya mengenai The Satanic Rituals yang menerangkan secara detail mengenai tehnik dan pegangan dalam menjalankan upacara pemujaan setan. Sayang, buku ketiganya The Compleat Witchbestseller di Italia— dilarang di Amerika karena dinilai potensial berbahaya!. LaVey’s tak sekedar menyebarkan sensasi saja.

Fenomena LaVey’s pun kemudian mendapatkan liputan serius dari beberapa majalah bergengsi seperti Look, McCall’s, Newsweek, hingga Time. Dua tahun kemudian ia juga merilis hasil rekaman talkshow di beberapa media televisi Amerika dengan nama Satanic: The Devil’s Mass. Dalam The Satanic Bible LaVey’s menggambarkan filosofi satanik. Ia menggambarkan secara detail dari inovasi ritualnya. Memberikan tahapan-tahapan pelaksanaan pemujaan setan. Termasuk memuat sembilan pernyataan setan. Dalam buku ini Lavey’s memuat empat bagian; Setan [Api], Lucifer [Udara], Belial [Bumi], Leviathan [Air].

Sedikitnya ada 78 nama panggilan setan berbeda-beda pada setiap wilayah negara. Seperti Abaddon [Yahudi], Adramelech [Samarian], Ahpuch [Mayan], Ahriman [ Mazdean], Amon [Mesir], Asmodeus [Yahudi], Astaroth [Babilonia], Beherit [Syria], Cimeries [Afrika], Demogorgon [ Yunani], Dracula [Rumania], Emma O [Jepang], Kali [Hindu], Mammon [Aramaic], Nihasa [Amerika Indian], Samnu [Asia Tengah], Shaitan [Arab], T’an-mo [China], Tchort [Rusia], Tunrica [Skandinavia].

Buku-buku ini menyebar di komunitas bawah tanah Bandung pada tahun 1996. Saat itu Bandung tengah menjadi barometer komunitas underground Indonesia. Gelanggang Olahraga Saparua, Bandung, arena pertemuan besar mereka.  Di sini boleh dibilang adalah venue terbesar bagi komunitas underground Bandung dan tanah air sekalipun.  Pertunjukan rock show fenomenal lahir. Macam Hullaballo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Dengan jumlah penonton hingga 5.000-7.000 penonton. Di sini pula beberapa pioneer band indie underground Bandung lahir. Mulai Burger Kill, Forgotten, Jasad, Jeruji, Puppen, Balcony, Kuburan, Rotten To The Core, Full of Hate, Waiting Room, Keparat, Sonic Torment, Homicide, Morbuse Corpse, Sacrilegious. Beragam warna musik karang hadir dari trahsmetal, grindcore, blackmetal, deathmetal, brutaldeathmetal, punk hingga industrial metal.  

***

GOR SAPARUA itu kini telah mati. Namun tak berarti band-band cadas itu juga lenyap di permukaan bumi ini. Saat ini benih semangat underground itu tetap bersemi. Salahsatunya berada di wilayah Bandung Timur atau dikenal dengan sebutan Komunitas Ujung Berung.   

Di sini tempat band-band cadas bersemayam. Mendirikan studio rekaman hingga membuat media macam Revograms Fanzine. Isinya, mengupas band-band metal hingga hardcore dari lokal hingga internasional. GOR Saparua  menjadi arena beredarnya buku-buku macam The Satanik Bible hingga soal Marxisme.   Salahsatu bukti pengaruh satanik masuk melalui jalur musik adalah pada kelompok Forgotten dan Sacrilegious. Forgotten kuat dalam lirik dengan mengusung tema-tema soal teologi, agama hingga sosial. Hingga saat ini kelompok musik Forgotten telah merilis empat album, Future Syndrome (1997), Obsesi Mati (1998), Tuhan Telah Mati (1999) dan Tiga Angka Enam (2003).   Sementara Sacrilegious menawarkan pertunjukkan yang lain dan ekstrem. Band blackmetal Bandung ini melakukan ritual satanik dengan acapkali menggigit seekor kelinci dan membakar kemenyan. Termasuk melakukan proses rapalan-rapalan satan.  Tak urung aroma GOR Saparua yang sesak penonton pun terasa lain. Ritual satanik sebelum pertunjukkan itu pun membius hingga penontonnya kehilangan kendali alias kesurupan! Sacrilegious menggugat tema satanik lokal macam kelongwewe hingga kuntilanak.  “Vokalisnya menjalani ritual satanik. Anak-anak juga belum siap termasuk bandnya sendiri. Bubar dan kita gak tahu jejak mereka ada di mana sekarang,” kata pentolan vokalis Forgotten Addy Handy.  

Teologi Penyesatan Agama tanpa pembebasan, ajaran penuh pembodohanKeyakinan bukan kebenaran, kenyataan kita dewakanKeyakinan yang cedera, keimanan yang lukaTak pernah ada logika, dibodohi oleh norma(x) teologi penyesatan, surga dosa, pahala nerakaTerlahir suci, mati misteri, teologi penyesatan……. Lirik ini bagaikan rapalan. Dan dibawakan dalam kecepatan musik yang tinggi. Warna vokal nyaris terdengar bagaikan bisikan dan desis saja. Untuk album yang keempat itu, vokalis Forgotten Addy Handy—panggilan akrab Addy Gembel—memberikan catatan dan terjemahan soal lirik-lirik Forgotten. Melalui sebuah cerita pendek ia memberikan latarbelakang mengenai lirik-liriknya. Satire dan menggugat soal relasi kekuasaan antara Tuhan, Iblis dan makhluk ciptaannya. Addy Handy membuka buku kecilnya terbitan penerbit Minor Book Juli 2005.  

Lirik-lirik Forgotten ataupun pertunjukkan Sacrilegious menyengat dan tak biasa. Pertunjukkan mereka hanya mengingatkan kita pada pertunjukkannya sekelas BlackSabattah. Band yang diusung oleh Ozzy Osbourne itu menggigit seekor kelelawar hingga personilnya terkena virus rabies.  Ataupun kelompok musik macam Cradle of Filth, Suffocation, Deicide, Slayer hingga Marilyn Manson.  Manson, band asal Amerika ini dipuja sekaligus dihujat karena dinilai berbahaya oleh negara. Marilyn Manson mengambil inspirasi dari Charles Manson, sang pembunuh berantai dan Marilyn Monroe  bintang cantik sekaligus simbol seks 60-an. Gerakan Anti Manson pun melawan. Khususnya dari kalangan penganut agama dan politik sayap kanan. Dari  American Family Association, The Christian Network hingga Oklahomans for Children and Family. Marilyn Manson dinilai tak pantas untuk dinikmati karena dari musik, lirik hingga aksi panggungnya penuh dengan amarah, mengumbar satanik hingga penyimpangan seksual. Manson membakar Amerika melalui hitsnya Antichrist Superstar  Addy Handy pun merasakan terror dan kecaman. Ia menjadi sasaran karena liriknya dianggap berbahaya dan menistakan agama. Ia dianggap sebagai biangkerok yang menyebarkan virus antiketuhanan dan ajaran sesat satanik. Email, pesan pendek hingga telephone gelap pun meneror Addy Handy. Musik yang diusung Komunitas Ujung Berung dinilai sebagai musik perusak generasi muda, menistakan agama dan menentang Islam.  Perang Demi Setan 

Apa yang kau rencanakan dibalik otak bertanduk, lidah tajam berdusta, tunduk dunia kau paksaSejuta battalion tajam terhunus, iblis tanpa mata, umbar senyum kematianAsah kuku hitammu siapkan sejuta kafan, tajamkan trisula, khotbah terror kegelapanAtas nama tuhan bunuhlah semua orang, demi nama setan kau bangun kerajaanKhotbah dan doa……sampahLupakan tuhan ini perang demi setan (4x)……… “Saya butuh sosok yang kontra. Tema satanik antitesis terhadap realitas. Ikon perlawanan terwakili melalui ikon satanik. Kebenaran yang absolute seperti agama saya gugat,” kata Addy saat ditemui di Studio Masterplan, Ujungberung, Bandung.  Kepulan asap rokoknya mencairkan suasana. Ia beralih pada sudut meja komputer. Dan menyalakan beberapa video klip rujukan bagi band pengusung blackmetal Ujung Berung. Macam, Slayer dan Deicide.  “Ini gelagat serius ada kaitan dengan bathin dan disposisi mental kita. Ada semacam trend satanik dengan intensitas dan kesungguhan. Ini seperti mengejek ritualitas, khususnya kekristenan. Tapi kalau dilihat lebih dalam lagi ini penting dan perlu. Semacam terapi saja,” kata Bambang Sugiharto, dosen Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan.  

Baginya, millennium kedua adalah sebuah kebangkitan. Juga pertarungan antara kekuatan dunia gelap dan terang.[]

* Tulisan ini terbit di Majalah Playboy

10 thoughts on “Panji 666

  1. assalammualaikum pak budi gunawan
    saya baru membaca salah satu karya anda sebuah novel berjudul ETALASE

  2. assalammualaikum pak budi gunawan
    saya baru membaca salah satu karya anda sebuah novel berjudul ETALASE
    DIMANA……….di dalamnya membuat hati saya………tersentak akan siapa saya!
    lalu semua……….yg ada di dalamnya mengenai TUHAN ataupun sesama manusia selama ini adalah menjadi fikiran saya……..
    terimaksaih atas karya anda yang sangat indah tersebut

  3. Hail Dark Art!
    Sudah saatnya dunia gelap dan segala bentuk estetikanya hadir dan berada di samping kita.
    Iblis dan Malaikat sama pentingnya…….
    suci dan profan adalah sejajar…….
    Tulisan anda sangat menunjang hal-hal diatas
    Saya pikir inilah satu-satunya tulisan yang meliput dark-side secara mendetail dan terperinci serta komprehensif yang terkeren yang pernah saya baca.
    Thanx bgt…

  4. Selamat malam

    Saya ingin bergabung dengan AJI kota Bandung ..kebetulan saya pribadi adalah editor majalah musik yang berkedudukan di Jakarta.

    Dan satu lagi, bolehkah saya mencuplik tulisan ini untuk dimuat di website pribadi saya ? tentunya credits dan hak cipta masih milik penulis aslinya

    Terima kasih dan hatur nuhun🙂

  5. Dark arts akhirnya mulai berkembang di indonesia…
    Untuk sebagian orang, ini adalah sebuah awal dari akhir.
    Namun sebenarnya, ini adalah suatu tanda bahwa bangsa ini akan maju…
    Mengikuti perkembangan dan dibawah bimbingan sang kegelapan…

  6. tulisan yang bagus..saya berkembang di dalam musik yang keras… Visual kei, bnyak terpengaruh oleh semua hal yang anda tulis di atas..kegelapan menyelimuti saya tapi saya berontak seperti ulat..memakan tiap titik gelap dan menelannya mentah-mentah!..hingga hanya cahaya tuhan yang mampu saya rasa..walau di dalam perut saya penuh muak akan kegelapan..555 to the 666 (SLIPKNOT SAID)

  7. maka kita semakin tersesat pada ketipisan pembatas, mana itu arogansi sebuah Resistensi, ikon satanik, eksistensialis kah??? ubersmench …. aduh bingung bgt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s