Upah Layak Minimum Jurnalis Bandung Rp 3,5 Juta

Minggu, 19 Oktober 2008 | 18:07 WIB

TEMPO Interaktif, BANDUNG:Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung menetapkan angka upah layak minimum jurnalis di Kota Bandung sebesar Rp 3.538.797 untuk jurnalis lajang yang bekerja minimum satu tahun.

”Angka ini berdasarkan survey komponen dan harga kebutuhan hidup layak tahun 2008 termasuk kebutuhan menyicil rumah sederhana tipe 21,” ujar Sekretaris AJI Bandung Mulyani Hasan dalam diskusi “Upah Layak Minimum dan Serikat Pekerja” di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, Minggu (19/10).

Angka ini, menurut Yani, diperoleh dari survey yang dilakukan AJI Bandung pada Agustus lalu. Caranya dengan mengecek tingkat harga di pasar semi modern yang tergolong stabil. ”Di tingkat ritel ini, harga tergolong stabil dibandingkan dengan yang berlaku di pasar tradisional atau pasar induk,” ujarnya.

Tim AJI, kata Mulyani, juga mengukur biaya hidup berdasarkan gerakan indeks harga konsumen dan kebiasaan konsumsi kebutuhan seorang jurnalis. Selain itu, juga melakukan survey upah yang diterima oleh jurnalis di 14 media lokal dari media cetak, televisi, dan radio. ”Ada dua puluh jurnalis yang kami wawancarai,” katanya.

Keempat belas media lokal itu adalah Harian Umum Pikiran Rakyat, Galamedia, Radar Bandung, Tribun Jabar, Majalah Mangle, Tabloid Galura, Radio Cosmo, Radio Rase FM, Radio Walagri, Radio Garuda, Radio MGT, STV, Bandung TV, dan PJTV.

Tahun ini, Dewan Pengupahan Kota Bandung menetapkan upah minimum kota (UMK) Bandung sebesar Rp 939 ribu. Sedangkan upah minimum provinsi (UMP) Jawa Barat sebesar Rp 568.193. Nilai ini dinilai sangat kecil dan jauh dari kelayakan hidup saat ini. ”Apalagi diberlakukan bagi seorang jurnalis,” katanya.

AJI Bandung menilai, bentuk pengupahan terhadap jurnalis berbeda dengan yang ditetapkan pemerintah melalui dewan pengupahan kota maupun provinsi. Soalnya, kata Yani, profesi jurnalis menghadapi resiko pekerjaan yang tidak bisa diprediksikan, seperti kecelakaan saat melakukan peliputan. ”Profesi ini juga menuntut penerapan kode etik jurnalistik yang ketat,” katanya.

Ketua Bidang Advokasi dan Pembelaan Dewan Karyawan PT Pikiran Rakyat Bandung Erwin Kustiman menyambut baik upah layak jurnalis ini. ”Ini sudah semestinya,” kata Erwin.

Menurut Erwin, angka yang dirumuskan AJI Bandung ini sudah memadai karena penghitungannya dilakukan hingga tingkat kebutuhan jurnalis setiap bulan. ”Pekerjaan wartawan memerlukan tingkat intelektual yang lebih, jadi harus mendapatkan perhatian yang lebih pula,” ujarnya.

Ketua Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, M Ridlo ‘Eisy juga menyatakan dukungannya terhadap upah layak jurnalis ini. ”Tanpa gaji yang baik, wartawan akan mudah dibeli dan tunduk pada si pemberi uang,” ujarnya.

Namun menurut Ridlo, upah layak ini masih sulit diterapkan oleh semua perusahaan media, terutama media cetak. Dari 420 anggota SPS, kata Ridlo, baru 30 persen yang sudah mampu menggaji wartawan di atas UMK. ”Karena itu, mohon maaf jika kami belum bisa ikut AJI,” ujar Ridlo yang juga Direktur PT Galamedia Bandung Perkasa. (Rana Akbari Fitriawan)

[sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/10/19/brk,20081019-140937,id.html%5D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s