MAY DAY: AJI Bandung soroti kekerasan dan upah jurnalis

BANDUNG (bisnis-jabar): Hari buruh internasional yang jatuh pada 1 Mei ini rupanya masih menyisakan beragam masalah bagi pekerja media salah satunya belum adanya upah ideal.

“Kita juga mengikuti angka KHL [kebutuhan hidup layak], memang ada beberapa tambahan seperti biaya akses internet, pulsa, untuk kerja seorang jurnalis. Sehingga pengeluarannya itu pasti lebih besar. Versi AJI itu terakhir upah ideal seorang jurnalis ialah Rp4,1 juta per bulan,” kata Ketua Aliansi Jurnalis Independen [AJI] Bandung Zaky Yamani.

Pemahaman soal pentingnya upah layak pada jurnalis menurut Zaky belum banyak diketahui para pemilik media. “Kalau kita menerapkan upah ideal jurnalis, maka kita harus memberikan pemahaman kenapa sih upah jurnalis harus besar, karena dalam bekerja mencari berita seorang jurnalis harus membutuhkan biaya yang lebih besar,” katanya hari ini.

Ia membandingkan dengan pekerja di sektor lainnya, seperti pekerja kantoran yang pola kerjanya tidak seperti jurnalis. “Kalau pekerja kantoran mereka masuk kerja tidak ke mana-mana. Itu sebabnya upah jurnalis harus lebih besar,” katanya.

Selain soal upah, AJI Bandung juga menyoroti kasus kekerasan pada jurnalis yang masih sering terjadi. Seperti kasus penangkapan awak media Sumedang Ekspress oleh jajaran Polres Sumedang beberapa waktu lalu dan pemaksaan seorang jurnalis perempuan untuk mengundurkan diri.

“Yang terbaru itu kasus Sumedang Ekspress dan di Bandung kemarin ada kasus jurnalis perempuan yang sedang hamil dipaksa untuk mengundurkan diri. Namun, si jurnalis perempuannya tidak mau mengadukan masalahnya tersebut kepada kami,” katanya.

Khusus untuk kekerasan pada jurnalis perempuan, AJI menilai perusahaan yang bersangkutan tidak memberikan toleransi terhadap beratnya masa kehamilan, dan menunjukkan rendahnya pemahaman mereka atas hak-hak perempuan. Kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis menurutnya sulit dilepaskan dari situasi perburuhan di industri pers itu sendiri.

“Mungkin berbeda dengan industri lain, dimana tuntutan hanya sebatas kesejahteraan dan upah. Tapi di industri pers, semuanya harus lengkap, upahnya harus dipenuhi secara layak dan perlindungan dari kantor juga harus dipenuhi secara layak dari kantor,” katanya.

Berkaca dari hal ini AJI Bandung berharap kasus-kasus kekerasan terhadap wartawan tidak terulang kembali. Karena itu, AJI menekankan kebersamaan untuk mengatasi persoalan ini.

“Kita memang tidak bisa jalan sendiri, ini butuh kesadaran penuh juga dari teman-teman wartawan, teman-tamen buruh di industri pers untuk tahu haknya, berani melawan ketika haknya di hujat-hujat,” katanya.

“Jadi kalau hanya organisasi seperti AJI atau yang lainnya melakukan kampanye terus-terusan tanpa ada respon dari teman-teman wartawannya sendiri. Maka hal ini akan berjalan percuma,” lanjutnya. (ajz)

sumber: Bisnis Jabar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s