Bredel 1994

Buku “Bredel 1994” Diterbitkan Kembali
Menyambut Kongres Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang akan digelar mulai tanggal 1-3 Desember mendatang, AJI Kota Bandung mencetak ulang buku bersejarah “Bredel 1994”.
Buku yang terbit setelah pembredelan majalah majalah Tempo, Detik, dan Editor pada 21 Juni itu merekam berbagai pemikiran dan dampak dari kejadian tersebut. Para penulisnya, antara lain, Ayu Utami, Goenawan Mohamad, dan Arief Budiman.
Ketua AJI Kota Bandung, Zaky Yamani mengatakan buku tersebut merupakan pengingat akan zaman kekuasaan yang otoriter. Pengingat akan sebuah zaman di mana kebebasan bicara dibatasi, dan pers harus manut pada pemerintah.
“Namun, buku ini bukan saja pengingat akan masa yang kelam, tetapi juga pengingat bahwa suara-suara yang merdeka tidak pernah hilang sama sekali,” kata Zaky di Bandung, Selasa (29/11).
Bagaimana pun pembungkaman dilakukan, ujar dia, gema suara kritis tidak sampai hilang. “Malah gemanya terdengar semakin keras, sampai akhirnya rezim yang membungkam itu tumbang. Dan gema itu sampai pula kepada kita, wartawan generasi muda, yang mengetahui rangkaian sejarah itu dari cerita orang atau dari terbitan pertama buku ini,” tambah Zaky.
Menurut Zaky, pencetakan ulang buku ini sangat tepat untuk kondisi dunia pers Indonesia yang sekarang ini berada dalam era kebebasan berbicara, berekspresi dan berpendapat. Dia memberi contoh kekhawatiran Arief Budiman yang menyinggung soal pers perjuangan akan beralih menjadi pers bisnis.
“Apakah kekhawatiran itu terwujud? Saya rasa kita semua bisa menilainya,” ungkap dia.
Berdasarkan alasan itu, makanya AJI Kota Bandung melihat, apa yang diungkapkan di dalam buku itu, masih kuat relevansinya dengan situasi pers jaman sekarang.
Buku ini dapat menjadi bahan refleksi dan introspeksi bagi wartawan, dan perusahaan-perusahaan pers, bahwa secara mendasar situasi mungkin belum benar-benar berubah ke arah yang lebih baik.
“Kegeraman para penulis buku ini ternyata masih dirasakan oleh wartawan generasi sekarang. Jika dulu para pendahulu itu geram kepada pemerintah yang otoriter dan institusi-institusi yang mendukungnya, kini wartawan generasi muda geram atas pembungkaman, yang dilakukan para pengusaha media yang perilaku bisnisnya begitu agresif, manipulatif, dan mengisap tenaga wartawan semata untuk kepentingan bisnis, bukan untuk kebenaran,” tegas Zaky.
Pembungkaman itu dilakukan atas informasi yang penting dan berguna bagi warga.
Dengan dalih produktivitas dan efisiensi, sambung dia, wartawan dibuat sibuk dengan target jumlah berita per hari, dituntut untuk mampu memenuhi keinginan pasar, dan sebagian dituntut untuk terlibat langsung dalam mencari iklan. Akibatnya, wartawan tidak mampu lagi berpikir dan merencanakan liputannya untuk sesuatu yang berguna bagi warga.
Karenanya, AJI Kota Bandung begitu bersemangat untuk menerbitkan kembali “Bredel 1994” dengan dana dan tenaga seadanya.
“Kami yakin buku ini adalah pengingat, bahwa di suatu masa yang suram kita pernah dikalahkan, tetapi perlawanan kita tidak pernah berhenti. Melalui buku ini, kami juga ingin mengingatkan, bahwa setiap generasi harus menghadapi iblis zamannya. Yang harus kita lakukan adalah tetap menyalakan api itu, semangat perlawanan itu. Dengan sebuah keyakinan, bahwa pada akhirnya waktu akan berpihak pada kita,” ujar dia.
*******

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s